Rabu 30-11-2005
Hari ini pergi ke Ancol lagi sama dia. Berangkat dari wartel salemba, dia dateng ke sana naik kereta. Sebenernya kasihan juga sih nyuruh dia dateng sendirian ke wartel salemba, malahan belum pernah kesana sebelumnya lagi, di tambah naik kereta, lengkaplah! Tapi ada bagusnya juga buat dia, biar tau jalan. Kira-kira jam 2an aku jemput dia di Stasiun Kramat, setelah sebelumnya ditelepon dulu kalau dia sudah sampai. Jam 3 berangkat, mampir ke indomart beli stok makanan sama minuman buat di sana sama beli nasi padang, maklum belum makan siang.
Perjalanannya, naik kereta dari kramat dan seharusnya turun di Stasiun Kota, tapi keretanya cuma sampe Kampung Bandan, terus jalan nyari angkot dan baru dapet di depan WTC, kebetulan macet.
Sampe di Ancol, seperti biasa nyari musholla dulu, sholat ashar. Terus nyari stand yang enak buat makan, ketemu, di ujung batu-batuan yang menjorok ke laut. Enak banget disuapin, kayak bocah. Sambil ngobrol tentang masa lalu masing-masing dan diam-diam aku merekam pembicaraan dia. Emang udah niat sih bawa walkman buat ngerekam, karena aku yakin di malam ini bakalan ada omongan yang agak serius.
Abis makan langsung jalan-jalan lagi, nyari tempat yang udah dicidekin menjadi tempat favorit kami berdua. Jembatan yang menghubungkan kami dengan tengah lautan
(walau sebenernya cuma kira-kira 70 meteran dari pinggir laut).
Makin malem obrolan emang makin serius, disana aku dan dia membahas tentang dia yang butuh waktu untuk menyendiri tanpa aku. Alasannya karena dia ingin fokus memikirkan hubungan dia dengan pacarnya. Aku coba untuk mengerti. Padahal permintaan dia ini juga sudah dari hari-hari sebelumnya di utarakan, tapi belum juga terlaksana, karena aku belum bisa, dan (mungkin) dia juga belum siap. Disana juga ngobrol tentang kemungkinan-kemungkinan yang dia takutkan dengan hubungan aku dengannya. Kalau aku rasa dia terlalu mendramatisir keadaan, agak berlebihan. Tapi, cukup beralasan juga dia membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Dan aku coba untuk mengerti lagi.
Dia juga minta dukungan dan doa dariku agar dapat menemukan jalan yang terbaik untuk permasalahan yang sedang dia hadapi sekarang ini.
He.. He.. Dasar aku yang memang ada niatan iseng, ternyata dia tau juga kalau aku ngerekam setiap pembicaraan dia. Tapi enggak kenapa, dia enggak marah.
Dialog yang aku suka pada malam itu adalah:
"kalau kangen, mas Adi kapan aja ke tempat Ami" itu ucapan yang akan selalu aku ingat darinya. Setelah dia tahu jawabanku atas pertanyaannya mengenai bersedia atau tidaknya untuk tidak bertemu dulu sampai masalah dia selesai. Sejujurnya aku memang tidak bisa bilang iya atau tidak, dan aku bilang ke dia, "Adi pasti akan merindukan Ami." Tapi pernyataan dia ternyata lebih dariku, dia bilang, "Kalau Ami jauh lebih merindukan dari Mas Adi," (mmm… so sweet manis banget)
Pernyataan yang manis banget, semanis ice cream A&W yang dia beli sebelum aku dan dia meninggalkan ancol jam 9an.