Bandung Jumat 04-11-2005
Jam tujuh pagi janjian dengan Roro di Perempatan Lampu merah Buaran, terus naek angkot ke Terminal Pulo Gadung, sampai disana langsung dapat Bus, Jakarta - Bandung. Sepanjang perjalanan ngobrol ngalur ngidul, bertigaan. Perjalanan sungguh tidak terasa, Jakarta - Bandung yang seharusnya menempuh perjalan selama 4 - 5 jam, karena sekarang sudah ada jalan tol baru yang membelah bukit (padalarang) jadi sekarang hanya butuh waktu setengah dari biasanya, dua jam.
Oh iya, rencana jadi ke Bandung awalnya karena ada tempat buat nebeng nginep di rumah "calonnya" Roro. Tapi Ada sedikit tragedi setelah tiba di Terminal Leuwi Panjang. Pas turun dari Bus kira-kira jam 10an, langsung disambut sama "calonnya" Roro, kenalan, lalu pisah deh. Lho kok pisah? Iya tragedi yang tidak disangka, tapi kami tidak pernah menyesalinya. Entah dengan mereka. Ya, mereka merencanakan ingin pergi ke Garut, entah apapun alasannya kami tidak begitu perduli. Karena kami hanya ingin berburu kebahagiaan dan bersenang-senang tanpa harus ada sesuatu yang mengganggu ketenangan perasaan kami.
Kami melepas Roro dan kekasih barunya itu dengan senyuman yang terpaksa kami berikan sebagai suatu penghargaan, karena berkat dia juga kami berada di Kota Parijn Van Java. Setelah itu kami mencari masjid, dalam ingatanku terakhir ke Bandung aku tahu ada Masjid Agung, tapi aku tidak tahu di jalan apa, tapi yang pasti ada di sepanjang jalan yang dilintasi Bus Damri yang kami taiki, Leuwi Panjang - Dipati Ukur.
Sungguh mengesankan, Bandung menyambut kami dengan bulir-bulir hujan yang berderai deras, hatiku menerka Bandung terharu dengan kedatangan kami, sepasang kekasih yang sedang mencari kebahagiaan! He..he..
Tapi keterharuannya sungguh keterlaluan, walaupun senang tetap saja tangisan yang keras itu menutupi pandangan kami hingga tidak dapat menemukan Masjid yang akan kami tuju, hingga kami memasrahkannya bersama deruan mobil dan derasnya hujan yang mengantarkan kami dipenghujung perjalanan Bus. Dipati Ukur, Unpad, masjid yang dulu pernah aku singgahi, kami kesana.
Aku terpaksa meninggalkan dia sendirian di bangku yang tidak panjang di sebuah kios makan yang tidak terpakai oleh pemiliknya, entah pulang kampung, atau memang karena hari raya, jadi tidak terpakai. Aku tinggalkan dia bersama deraian rintik hujan yang tetap memuntahkan dinginnya ke kaki bumi. Dan aku menunaikan janjiku kepada-Nya…
Hanya satu jam berselang, setelah aku bersilaturahmi kepada-Nya. Kami lanjutkan perjalanan, mengasihi perut kami yang memang dari pagi belum tersentuh sesuatu. Makan bakso, kiosnya kecil tetapi pengunjungnya sangat ramai dan antusias menunggu gilirannya, dengan muka-muka harap-harap cemas tidak kebagian dan mulut-mulut basah oleh liur oleh aroma yang menggiurkan. Kami makan dengan ketenangan sambil berfikir ringan, mau kemana setelah ini? "Muhun teh," suara wanita disebelah kami memecah ketenangannya, yang maksudnya "Duluan ya, Mbak". "Oh iya," dia membalas salamnya. Mungkin tidak akan pernah terjadi kejadian seperti itu kalau kita sedang berada di Jakarta, tapi ini Bandung, dan sudah rahasia umum bila penduduknya adalah penduduk yang teramah diantara kota yang ada di Indonesia, atau mungkin di dunia.
Makan bakso di tengah melawan dinginnya alam, memang sungguh hangat dan nikmat. Selamat makan.
Alam mungkin memang benar-benar terharu oleh kedatangan kami, sampai terpaksa kami mencari tempat berteduh dan juga sekalian mencari wartel yang buka, tentu saja jarang dan sepanjang jalan Dipati Ukur kami memang tidak menemui toko-toko yang buka, paling hanya toko makanan, maklum masih suasana Lebaran. Rintik-rintik makin lama menjadi guyuran yang memaksakan tubuh ini mencari perlindungan, dapat, di depan wartel yang tutup, bangku panjang menanti kami untuk diduduki, dilindungi juga oleh mobil box, dan dia pun bercerita tentang mobil box milik ayahnya di Padang. Dan dia pun bercerita bersama kerinduan memancar dimatanya, "Ami seneng banget sama mobil kaya gini (mobil box –red), pokoknya dulu kalo dari kejauhan, dan ami masih di dalam rumah, terus dengar deruannya yang khas, ami pasti langsung keluar dan ikut naik." senyumannya terkembang sambil melanjutkan bercerita bersama kenangan, "Bokapkan suka ganti-ganti mobil sampai tetangga nyangka kalo ami mobilnya banyak, padahalkan itu mobil kantor." Aku mendengarkan sambil memandang senyumnya yang menawan, dalam hati aku memuji, "Kamu sungguh manis."
Entah terbuat dari apa kenangan itu hingga kita yang menuangkannya kembali ke dalam cerita seolah-olah memang sedang terjadi dan dapat dirasakan.
Cerita berakhir bersama meredanya hempasan air dari langit. Kami melanjutkan perjalanan, mencari penginapan, menelusuri jalan yang masih terasa asing bagi kami. Selama perjalanan Roro terus-menerus menebus kesalahannya dengan mengirim sms yang berkata tentang kekhawatirannya, perminta maafnya, dan ajakannya untuk ikut dengannya. Tapi kami tidak menggubrisnya. Toh kami hanya ingin berdua menikmati ini.
Menjelang perempatan Dipati Ukur dan Juanda, kami mampir ke toko Fuji Film, mau beli film roll. Tapi sayang cameranya error, tidak dapat digunakan, terpaksa dibatalkan. Sepanjang jalan dia menyesali dan mengutuk orang yang tidak bertanggung jawab yang telah merusak cameranya,
Perjalanan panjang kami dimulai, dan memang benar-benar jalan. Ke arah entah kemana, kami melangkahkan kaki menikmati setiap langkahnya. Menelusuri jalan Ir, Juanda atau yang lebih dikenal dengan Jalan Dago. Sambil memikirkan kebuntuan, mau menginap dimana? Sambil mengirim sms, menanyakan perihal penginapan terdekat dan termurah, oleh "calonnya" Roro, kami muter-muter dengan kaki yang entah mau kemana. Jalan dan berteduh, jalan dan berteduh. Dua kali ditanya oleh orang yang bermobil yang kelihatannya tersesat, dan kami menjawab seolah-olah kami tidak sedang tersesat. Pertanyaan pertama aku jawab dengan meyakinkan, karena aku tahu jalan Cihampelas dari plang jalan, dan benar. Tetapi yang kedua aku menjawab dengan kebelaguan yang akhirnya menjadi tawaan kami berdua, mereka bertanya Jl. RE Marthadinata, padahal mereka baru saja melewatinya, tapi aku bilang kemereka, "Oh, terus aja kekanan," sungguh bertolak belakang. Memalukan. Tapi PD aja.
Angkot pertama membawa kami hanya sebentar, terminal Kebun binatang, petualangan nyasar yang pertama. Tapi senang, ada hiburan, ngeliat bakso sebesar bola tenis, dan kesenangannya berubah menjadi cekakan besar setelah di sebelah etalase yang terdapat bakso sebesar bola tenis, ternyata ada yang lebih besar lagi, sebesar kepala manusia dewasa. Gila. Coba bayangkan bagaimana cara makannya? Sebesar apa mangkuknya? Huaha.. Haha..
Angkot kedua jurusan Ledeng - Cicaheum, angkot yang membawa kami makin menjauh dari pusat kota. Petualangan nyasar yang kedua, di sana menemukan wartel, aku menelpon teman yang ada di Bandung, ternyata dia sedang tidak di rumah, dia menelpon kakaknya di Medan, menyatakan keberadaannya. Setelah itu mencari masjid lagi untuk sholah ashar, ketemu, tapi sayang masjidnya terkunci. Jadi di undur. Lalu kami menaiki angkot dengan jurusan yang sama yang membuat kami tersasar. Turun di lampu merah tempat pertama kali tersasar. Perjalanan di lanjutkan dengan jalan kaki. Alam kembali bersedih dengan rintiknya membasahi Bandung. Jalan di bawah rintik-rintik gerimis, ternyata membuat keceriaan tersendiri. Dengan candaan yang sungguh menghibur kami berdua, "Kita ada dimana".
Untuk kedua kalinya melewati jalan yang sama, sempet istirahat sebentar di depan ITB. Dan saatnya beli logistik, karena stoknya sudah menipis. Shopping di Indomart. Sekalian bertanya kalau mau ke Cihampelas naek apaan. Dapat, ternyata menaiki angkot yang sama dengan yang kami naiki sebelumnya, tanpa mikir lagi kami langsung menaikinya dan sampai. Tapi kami tidak langsung turun saat angkot sudah melintasi jalan Cihampelas, karena di sepanjang jalan kami tidak menemukan penginapan. Ada hotel, tapi kelihatannya mahal. Setelah mobil melewati jalan Setiabudi, baru kami turun. Jalan lagi, clingak-clinguk lagi, cari pengingapan. Buntu lagi. Gak ketemu. Ngasoh di halte, sambil makan ager-ager dan aktifin HP, langsung menghubungi Roro, bertanya di mana lagi ada penginapan yang murah tapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Hari menjelang sore dan sebentar lagi akan gelap oleh malam, kami masih dihalte, berfikir. Nekad, kami akhirnya menaiki angkot jurusan ST.Hall - Lembang. Di angkot mata siap siaga, lihat kekiri lihat kekanan, masih mencari penginapan. Di depan terminal angkot sempat terhenti, ternyata sopirnya ribut dengan sopir yang lain. Jalan Setiabudi telah lewat dan berganti dengan jalan Dr, Setiabudhi. Nama jalan yang aneh, sama tapi beda, hanya dibedakan oleh Dr. Disana kami terjebak kemacetan, untung di sana kami banyak melihat penginapan, dengan basa-basi yang agak antara aku dan dia, kami turun. Hotel pertama yang dituju, kamar penuh. Hotel kedua kami tanyakan, ternyata penuh juga. Di hotel yang kedua sekalian nanya di mana masjid terdekat, tidak dapat. Di hotel yang ketiga diseberang jalan. Bismillah, dan dapat. Yess…
Ada dua pilihan kamar, dengan bentuk yang sama hanya beda ada TV-nya, perbedaan harganya dua kali lipat. Kami memilih yang tidak ada TV-nya. Selain kami tidak begitu membutuhkan TV sekalian menghemat pengeluaran, lagipula kami hanya ingin beristirahat.
ACC, langsung terjun bebas di atas kasur, aku lelah. Tapi berhubung belum sholat maghrib, istirahat di tunda. Mandi, dingin banget. Sholat di luar kamar. Eeh.. Pas udahan sholat aku panik karena kunci kamar tidak bisa di buka. Berkali-kali aku coba tapi tetap tidak bisa. Aku pikir kuncinya macet lalu aku memanggil penjaga, untuk meminta pertolongannya. Sang penjagapun tidak mampu membukanya. Aku pasrah, menunggu dia selesai mandi. Baru setelah dia keluar dari kamar mandi, aku melemparkan kuncinya dari celah yang ada di atas pintu. Dia membuka pintu dengan santainya tanpa harus menggunakan kuncinya, ternyata pintunya dia sengkelit. Dan menanyakan "Kenapa?" tanpa dosa. Huh dasar, bikin orang panik…
Istirahat panjang, meregangkan kaki, meregangkan otot, meregangkan badan, berbaring menatap langit-langit kamar dengan perasaan lepas. Dalam hati aku berkata "Akhirnya, bisa istirahat juga". Walau terusik dengan penghuni yang lain, mungkin satu keluarga atau mungkin juga dua keluarga. Pokoknya sangat ramai, mungkin mereka lahir di dalam goa jadi kalau bersuara tidak kira-kira. Mengganggu saja...
Menjelang tengah malam kepalaku tidak bisa diajak kompromi, pusing enggak ketahan. Disini kepahlawanan dia membuat aku terharu, dia keluar dari kamar tanpa sepengetahuanku dan tanpa aku tahu ingin kemana. Aku mendengar dia membuka pintu tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan berkatapun tidak (padahal dalam hati aku sudah berteriak: Ami sekalian beli nasi goreng!!). Rasa pusing yang ternyata dapat memenjarakan tubuhku. Ternyata dia mencarikan aku obat sakit kepala. Mmm… sungguh perhatian...
Obat membuatku terlelap dengan pulas hingga subuh, terbangun karena dingin. Dan terjaga sambil berbicara tentang cinta dengan hati. Sarapan pagi dengan nasi kuning. Lucu juga di dalam hotel ada pedagang menjajakan dagangannya, mulai dari jamu, bubur, dan nasi kuning. Sekitar jam 10an kami ceck out. Dadagh Hotel Padasuka…
Tujuan selanjutnya keatas (Lembang-red). Sampai di sana mentok, gak tau mau kemana lagi. Udah calo ngedeketin melulu, nawarin jalan-jalan ke daerah perahu (Tangkuban Perahu-red). Tapi dengan senyuman yang dipaksakan kami menolaknya, karena waktu kami terbatas. Perut mulai keroncongan, saatnya makan siang. Kami menelusuri jalan lembang, enak, adem. Tapi bingung mau makan dimana. Mampir ke toko makanan beli oleh-oleh. Mampir juga ke wartel nelpon sebentar. Terus berhubung waktu makin lama makin tidak bersahabat, terpaksa makan ditunda. Waktunya pulang.
Naik angkot Lembang-St. Hall, perjalanan yang lama karena macet disepanjang jalan. Disepanjang jalan itu pula kami bercanda ria. Turun di St. Hall. Langsung cari makan, karena memang harus makan, abis laper. Ternyata, mentok-mentoknya makan nasi padang juga. Setelah makan langsung menuju Terminal Leuwi Panjang, naik Bus Bandung-Bekasi, ke Jakarta aku kan kembali. Sampai bertemu lagi Bandung. Terima kasih atas perlakuan manismu kepada kami.
Jakarta - Bekasi cuma butuh waktu sebentar, hanya sekitar 2 jam, lewat Tol Padalarang. Tapi waktu dua jam itu masih belum membuatnya puas untuk menggelitiku. Tanpa cela, tanpa bosan, terus-menerus. Biarlah asal dia bahagia, walau aku jadi lemas.