Kami barangkat selepas maghrib, menuju stasiun Jatinegara. Janji bertemu dengan temannya yang juga ikut dengan kami. Setelah berputar-putar mencari dan akhirnya bertemu, berkenalan sekedar basa-basi. Kereta tiba sekitar jam setengah delapan, aku dan dia mendapat di gerbong lima dan temannya beserta pasangannya di gerbong nomor dua. Lima menit kemudian kereta berangkat. Dalam hati aku lega dan sedikit menghela nafas sambil berkata dalam hati, "Sampai jumpa Jakarta".
Tidak terlalu banyak aktifitas yang kami lakukan di atas kereta, sepanjang mata memandang di jendela yang terlihat hanya hitam. Malam begitu pekat dan angin malam membuat gigil. Dia tertidur di pangkuanku dengan bantal dari jaket yang ku lepas agar dia nyaman.
Yogyakarta, Jum'at pagi, 23 November 2007
Pukul lima pagi kami tiba di Stasiun Tugu. Hhh.. tarikan nafas di pagi ini terasa lega, hati terasa riang dan alam seakan menyambut dengan membisik lembut lewat angin pagi yang menyegarkan, "Selamat Datang Hai Pecinta di Kota Kami".
Setelah menikmati kelegaan yang kami rasa, lalu kami sholat subuh di mushola yang ada di stasiun. Setalah itu langsung meluncur ke penginapan yang sebelumnya sudah kami pesan di Jakarta. Delta Homestay di daerah Prawirotaman II. Keluar dari stasiun langsung di sambut oleh para tukang becak yang tak henti-hentinya menawarkan jasanya. Mau tak mau, setelah penawaran yang cukup alot dapat juga harga yang layak untuk menghantarkan kami ke Delta.
Wilayah Candi Borobudur, Jum'at siang, 23 November 2007.
Dengan balutan celana model gunung buatan sendiri dengan model yang sama denganku dan kaos lengan semi panjang berwarna putih dan merah jambu, dia terlihat semakin manis.
Tiba di tempat ini kira-kira pukul setengah sebelas. Sebelum ke Candi kami mengisi perut dulu di tempat makan yang ada di daerah terminal Borobudur. Makan dengan menu seadanya.
Charter delman, untuk 3 candi. Tawar menawar yang cukup memakan waktu. Sangat.
Candi pertama yang disinggahi, Candi Mendut. Jeprat-jepret, bergaya di foto.
Candi kedua, Candi Pawon. Agak miris, tidak sempat sholat jum'at dan terpaksa diganti sholat dzuhur di Masjid dekat Candi Pawon.
Candi ketiga, Candi Borobudur. Takjub melihat salah satu keajaiban dunia.
Kulihat dimatanya terpancar rasa senang yang tiada tara. Ada kesenangan yang tidak terungkapkan di hati ini saat melihat dia begitu bahagianya berada di tempat ini.
Keluar dari pelataran Candi, lalu berburu oleh-oleh untuk teman-teman di tempat kerja. Hmm.. wanita memang sama. Senang mengkoleksi barang-barang dengan jenis yang sama walau sudah punya lebih dari satu. Perut terasa lapar kembali, lalu makan mie ayam. Jam empatan bergegas kembali ke hotel.
Hotel, Jum'at malam, 23 November 2007
Setiba di hotel mandi dan bersih-bersih lalu tidur-tidur kecil. Sambil melakukan kebodohan kecil. Cinta memang kadang dapat membuat kita serasa kembali lagi kedalam keadaan yang polos dan apa adanya.
Jam delapan malam kami memutuskan untuk keluar, mencari makan malam. Restoran padang menjadi tujuan kami. Setelah makan menyempatkan diri membeli sendal jepit dan membeli burung dara bakar untuk stok makanan bila tengah malam terasa lapar, lalu kembali lagi ke hotel.
Keceriaan di kamar bersama dia selalu membuatku merasa menjadi orang yang sangat bahagia, entah, selalu saja ada hal-hal yang terjadi dan membuatku merasa tidak ada alasan untukku tidak mencintainya.
Dan terus menerus menambah rasa sayang ini kepadanya.
Pagi hari kita bangun dari tidur semalam yang tak panjang. Tak panjang karena kami memang tidur tidak lama dan lebih banyak terjaga. Tidak pernah berubah, setiap kali melihat dia bangun dari tidur selalu saja membuatku tersenyum bahagia karena melihat parasnya yang mempesona. Ku kecup pipinya dan bisikan kata sayang ku lantunkan ditelinganya setengah berbisik.
Mandi pagi, mengemas barang lalu check out untuk berpindah hotel di daerah prawirotaman yang sehari sebelumnya memang sudah kita booking.
Prawirotaman, Sabtu pagi, 24 November 2007
Di hotel yang baru cukup menyenangkan selain kamarnya yang nyaman didesain seperti rumah bilik, juga ada kolam renangnya. Setelah menaruh barang-barang langsung bersiap untuk perjalana kedua yaitu ke Kaliurang. Sebelum berangkat kesana menyempatkan mencari sarapan pagi, soto ayam dan membeli cemilan makanan basah di daerah pasar prawirotaman. Berangkat naik bus jalur 2 ke arah UGM lalu menyambung lagi naik bus yang langsung menuju Kali Urang.
Kaliurang, Sabtu siang, 24 November 2007
Perjalanan dari hotel sampai di Kaliurang kira-kira menghabiskan waktu3 jam lebih, sempat tertidur di mobil. Sampai dilokasi jam satu siang, langsung membeli tiket masuk dan mencari Musholla untuk sholat dzuhur lalu berputar-putar. Tapi tidak seperti yang aku bayangkan, sejauh cerita yang aku dengar, ditempat ini katanya sangat nyaman karena berada di bawah kaki gunung merapi. Yang aku rasakan adalah tempat ini tidak seenak di Kebun Raya Cibodas dan mungkin bila bisa dibandingkan suasananya hampir mirip di Kebun Raya Bogor. Udaranya tidak terasa dingin seperti pada umumnya berada di kaki gunung.
Ada hal yang menyesakkan juga ada hal membuatku terbahak-bahak bila mengingatnya. Seperti saat kita ingin menuju tempat air terjun yang bayangan kami akan terasa menyejukkan ternyata menyesakkan. Karena setelah samapi di lokasi, air terjun yang di tuju sudah tidak berupa air terjun tetapi tebing yang kering. Kata salah satu penjual disana air terjun kering karena musim kemarau. Lalu kami menuju puncak bukit. Disana ada tower empat lantai yang bisa di taiki tapi kami hanya singgal di lantai yang kedua. Sempat berfoto-foto dan berpandang-pandangan dengan monyet-monyet yang berkeliaran bebas disana.
Sesampainya diluar kami mencari makan. Setelah makan sambil menunggu bus sempat berfoto-foto dan bercanda-canda. Lalu bus berangkat.
Malioboro, Sabtu sore, 24 November 2007
Sepulang dari Kaliurang kami memutuskan untuk tidak langsung pulang ke hotel tetapi mampir ke Stasiun Tugu memesan tiket kereta api untuk esok hari. Untuk memesan tiket kita harus menunggu dulu, kulihat dia terlihat lelah, mungkin kelelahan. Dia berbaring di ruang tunggu, dan terlelap.
Tapi kami sedang tidak beruntung karena tiket untuk keberangkatan esok telah habis terjual bahkan sampai antri untuk yang kedua kalinya teranyata tiket untuk keberangkatan lusa juga telah habis terjual. Lalu kami keluar dari loket dan langsung di kerubungi oleh para calo tiket. Untuk menghilangkan bete kami memutuskan berputar-putar di malioboro.
Hotel Delta, Sabtu malam, 24 November 2007
Setiba dihotel kami shalat jama'ah setelah itu dia berbaring. Dia sempat menangis, mungkin karena menahan rasa sakit yang dideritanya. Kupegang kening dan lehernya, terasa panas. Dia juga sempat meminta maaf kepadaku atas keadaan ini. Setelah itu dia terlelap, pulas.
Jam sepuluh dia terbangun dan merencanakan keluar untuk mencari makan di luar. Karena sudah tidak ada kendaraan umum di malam hari, kita memanfaatkan becak. Lagi, setelah penawaran yang alot akhirnya kita berangkat ke salah satu sudut kota yogyakarta yang menyediakan masakan gudeg dengan gaya lesehannya. Sebelum menuju lokasi sempat di ajak muter-muter sama tukang becaknya. Padahal tujuan kami hanya ingin langsung ke lokasi yang telah di sepakati, tetapi sang tukang becak memilih untuk mengelilingi koda dan menyinggahi kami di beberapa toko baju dan makanan. Lumayan, bisa menikmati kota jogja dimalam hari yang hening di atas becak. damai.
Sampai lokasi kami memasan makanan khas jogja ini dengan menu ayam dan tahu ditambah teh manis hangat. Selesai makan langsung pulang lagi ke hotel. Sampai di hotel tanpa babibu langsung terlelap sampai pagi.
Hotel Delta, Minggu pagi, 25 November 2007
Parangtritis, Minggu pagi, 25 November 2007
Waaa, lega sekali. Plong.
Melihat laut yang begitu luas terpajang di depan mata.
Wangi asin laut terasa menyengat.
Melihat gulungan-gulungan ombak yang sangat mempesona dan irama hantaman ombak-ombak yang merdu. Sempurna.
Kurang lebih kami menghabiskan waktu dua jam ditempat ini dengan canda dengan tawa dengan berbagai kegembiraan yang dirasa.
Hotel Delta, Minggu siang, 25 November 2007
Di hotel seharusnya kita sudah harus check out siang ini tetapi kami menambah waktu setengah hari lagi sambil menunggu malam, karena kami pulang dengan kereta malam. Mandi, sholat dzuhur. Istirahat sebentar di dalam kamar. Lalu memanfaatkan fasilitas yang ada karena cukup sayang bila tidak digunakan. Kami berenang di kolam renang yang ada di dalam hotel. Rencana hanya berenang sebentar tetapi kebablasan sampai dua jam lebih. Karena keasyikan dan memang menyenangkan. Tidak lama kami kedatangan tamu, seorang calo tiket yang pernah menawarkan tiket jakarta kepada kami sewaktu di Stasiun Tugu.
Masih ada waktu tersisa dan masih ada satu tempat tujuan lagi yang harus dituju. Kami pun bergegas dari kolam renang, berganti pakaian dan berangkat menuju alun-alun kota.
Alun-alun, Minggu sore, 25 November 2007
Mengendarai becak kami menuju alun-alun tetapi singgah dulu di keraton, tapi sayang keratonnya sudah tutup. Mungkin karena batas kunjungannya sudah habis. Lalu kami jalan-jalan mengelilingi wilayah keraton menuju alun-alun. Seharusnya kami menuju alun-alun selatan tetapi tersasar di alun-alun utara. Karena lelah berjalan kami mengisi perut dengan makan mie ayam dulu. Memang sudah niat dari pagi untuk dapat makan mie ayam, tetapi hahaha mungkin lagi-lagi kurang beruntung. Mie ayam yang seharusnya dapat dinikmati dengan enak ternyata hanya semangkuk mie rebus biasa yang ditaburi sedikit ayam. Tidak makan sampai habis kami langsung menyudahinya dan meninggalkan tempat itu dengan sedikit kejengkelan.
Sempat tersasar, walau sudah bertanya kesana-kemari dimana lokasi alun-alun selatan tetapi akhirnya ketemu juga. Di perjalanan sempat membeli es krim untuk mengobati mengganti mie ayam yang mengecewakan itu juga untuk melegakan tenggorokan karena berjalan cukup jauh.
Di alun-alun ini dia sempat memainkan permainan yang sudah lama dipercaya oleh penduduk sekitar yaitu kalau kita punya hajat dan berhasil melewati dua pohon besar yang ada di tengah-tengah lapangan dengan jarak tertentu maka hajat kita itu akan terkabulkan. Tapi kami tidak begitu menggubris tentang kepercayaannya itu. Dan dia kelihatan sangat menikmati permainan itu, walau gagal.
Stasiun tugu, Minggu sore, 25 November 2007
Tiba di stasiun tugu kira-kira jam setengah tujuh malam, sholat dulu di masjid dan mengkosor isya. Akhirnya kami memang harus pergi meninggalkan kota ini a ini, walau tidak untuk selamanya, karena kami pasti akan menyinggahi tempat ini lagi di lain waktu. Kereta datang molor setengah jam. Kami naik. Dan mengucapkan salam perpisahan dari dalam hati; Terima kasih yogyakarta, karena telah sudi kami singgahi.
Kereta jalan perlahan, hingga akhirnya berjalan cepat meninggalkan stasiun tugu, aku tersenyum lega.